banners

cerpen

Keping-keping Hitam di Malam Suci Cetak E-mail
Oleh Lioni Ellis H   
Rabu, 26 Agustus 2009 07:47
Keping-keping hitam di Malam Suci

Naira merenungi pertemuan dengan Fidaus kemarin petang. Sungguh pertemuan yang nyaris tak diduga. Bunga-bunga cinta yang dulu pernah berkembang namun tak sempat merekah dan mengharum, karena Naira segera dipetik oleh bujang kaya pilihan orang tuanya. Sungguh di masa sekarang masih ada pula perjodohan laksana jaman Siti Nurbaya. Jiwa lembut Naira berontak namun tak kuasa menolak di bawah belenggu “kasih” kedua orang tuanya.

Pernikahan Naira sudah mencapai lebih dari 10 tahun. Naira belum jua dikaruniai putra. Entah karena Asmawi yang memang tidak menghasilkan ataukah Naira yang memang belum bisa berbuah. Ketabahan dan kesabaran Naira yang memang tak pernah berbatas itu selalu membuat ibu Naira yang terus merengek menginginkan cucu dari putrid semata wayangnya menjadi luluh dan tak merengek lagi. “Bu, jika Allah menghendaki pastilah akan hadir buah hati Naira.” Demikian selalu diucapkan wanita halus dan manis ini.

Namun tidak dengan Asmawi. Tak mudah dia menerima kenyataan bahwa mereka tak punya keturunan. Berbagai upaya memang telah dilakukan Asmawi. Namun mungkin entah karena salah satu di antara mereka memang “tak menghasilkan” atau hanya Allah belum berkehendak saja, saat ini tak kunjung jua titipan Tuhan itu hadir ke dunia.
“Bunda, bagaimana jika Ayah meminang wanita lagi untuk menjadi ‘teman’ bunda. Bagaimanapun Ayah membutuhkan keturunan.” Pinta Asmawi suatu pagi yang awalnya indah. Bagai disambar geledek, Naira yang meskipun dijodohkan namun karena baktinya kepada kedua orang tua sudah mampu mencintai Asmawi dengan segala kekurangannya itu nyaris saja pingsan. Tak disangka suaminya yang juga selama ini Nampak sabar dan tabah memiliki keinginan sedemikian mengerikan, demikian pikir Naira.
“Entahlah, Ayah. Bagaimanapun Bunda masih wanita normal,” ujar Naira singkat sambil menyembunyikan isak tangis yang nyaris menyeruak. Pipinya yang memang kemerahan bertambah merah menahan perih.
Sejak permintaan pagi itu Asmawi Nampak berbeda, dia sering mengurung diri di kamar, bahkan sepulang kantor pun tak segera menemui istrinya. Entah apa yang dilakukan berlama-lama di kamar. Naira tak begitu mempedulikan. Saat ini, di kala hatinya gundah atas rengekan sang suami, tiba-tiba dia harus menerima kenyataan lain, tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang pernah begitu memikat hatinya, Firdaus. Dia berjumpa dengan Firdaus di sebuah pertokoan saat Naira hendak belanja. Pada awalnya Naira ragu akan pria yang pernah membuat hatinya begitu resah itu. Namun nampaknya tidak dengan Firdaus. Firdaus segera mengenali wanita anggun berkulit sawo matang itu.
“Naira kah?” itulah kata awal yang menjadi ucapan pertama perjumpaan tak disangka ini.
Entah iblis dan setan mana, yang mempengaruhi kedua sejoli yang sebenarnya sudah tak diperkenankan lagi meramu bunga-bunga cinta itu, mereka seolah kembali terpaut. Berawal dari perjumpaan, saling tukar nomor handphone, akhirnya mereka sering kontak dan sempat berjanji untuk bertemu. Sungguh laksana Naira menjadi wanita yang tak pernah ada sebelumnya. Wanita setia itu kini harus memenuhi hari-harinya dengan bunga-bunga asmara dengan pria lain yang bukan muhrimnya itu. Ditambah lagi Naira masih bersuami.
Memang hubungan Naira dengan Asmawi akhir-akhir ini mengalami penurunan kualitas. Dengan alasan kesibukan kantor, rapat dan lain sebagainya Asmawi sering meninggalkan Naira merenungi gelapnya malam dalam kesendirian. Tapi kehadiran Firdaus nampaknya tak membuat Naira gulana. Justru kesepiannya yang kini menjadi kian sering itu dimanfaatkan Naira untuk bercengkrama dengan seseorang yang ternyata tak pernah mau beranjak dari dasar hatinya itu. Memang diakui, sebenarnya pria yang benar-benar mampu menundukkan hatinya hanyalah Firdaus. Benar-benar Naira mencintainya tanpa pernah mengerti kenapa dia mencinta.
Waktu kian melaju, perjuampaan kedua insan berlainan jenis ini semkain sering, akhirnya roh iblispun semakin dekat merasuki makhluk yang mudah dilemahkan oleh nafsu ini. Perbuatan terlarang pun mereka lakukan tanpa merasa gelisah. KUncup bunga yang kini menyeruak mekar semakin semerbak, telah membuat mereka beradu di dalam sebuah penyatuan yang sungguh terlarang. Ada gejolak perang antara nurani yang berontak dengan kekuatan cinta yang sudah disusupi oleh nafsu. Nurani mengatakan “meskipun kucinta dia, namun ini tak boleh, ini dosa”. Cinta tersusup nafsu mengelak “tak mengapa, dialah yang paling kaucinta, Na”. Entahlah kenapa akhirnya cinta tersusup nafsu itulah yang selalu dimenangkan oleh Naira.
Bulan kian melaju, Naira merasakan adanya perubahan dalam tubuhnya. Naira gelagapan. Ada rasa senang, resah, takut berpadu beraduk menjadi satu laksanan adonan kue yang belum jadi. Hamilkah dia? Mungkinkah ini anak Firdaus? Ada sesal menggelayut di wajah Naira yang mulai Nampak letih. Kehidupan pribadinya yang jauh mengalami penyusutan kualitas itu sebenarnya telah melelahkannya. “Ya Allah, beri kesempatan aku lepas dari masalah ini,” pinta Naira saat “sadar” akan keberadaannya sebagai seorang hamba Allah. Naira sadar, Firdaus pun telah berkeluarga, bahkan putri pertama Firdaus saat ini sudah menginjak bangku SLTP.
Ketika perut Naira semakin membusung, Asmawi menanyakan dengan penuh keraguan, “Bunda, mengandung?”
Naira tidak bisa mengelak. Tetes air mata kecil itupun akhirnya runtuh dalam isak. Asmawi tersenyum lebar, memeluk istrinya. Memagut bahu Naira yang masih bidang laksana gadis. “Alhamdulillah, Allah akhirnya mengabulkan doa kita, Bunda,” seru Asmawi lega.
“Maafkan Ayah ya pernah merengek mau nyari bunda baru, padahal tak mungkin ayah lakukan, Bunda. Hanya BUnda yang Ayah saying. Ya, akhirnya supaya Ayah tidak bête, mikirin kapan punya adik terus, Ayah menyibukkan diri di kantor deh,” Asmawi tampak begitu bahagia. Tak tahu hati istrinya seperti hancur telah mengkhianati suaminya. Tangis Naira diartikannya sebagai tangis bahagia oleh Asmawi.
Berita kehamilan Naira terus menyeruak. Kolega dari berbagai penjuru dating sekedar hadir dan mengucapkan selamat. Wajah kepura-puraan bahagia Naira nyaris membuat Naira menjadi gila. “Haruskah aku bahagia, sedik, atau apa?” seru Naira dalam batinnya.
Semenjak hamil, Naira justru tak sekalipun menghubungi Firdaus. Namun pria tampan itu memang tak pernah mau mendahului untuk mengontak, meskipun jelas rasa rindu, gundah dan gelisah selalu meliputi Firdaus yang memang jatuh hati kepada mantan bunga kampus itu.
Bulan suci datang, seiring waktu Naira harus melahirkan buah hatinya dengan seseorang yang sebenarnya bukan suaminnya itu. Keluarga berbondong-bondong menemani Naira ke rumah sakit. Betapa bahagia Asmawi, Ibu dan Ayah Naira. Hanya Naira saja yang merasa perih. Rasa berdosa masih terus menyeruak dalam batin Naira, meskipun Naira telah melakukan Taubatan nasukha. Namun, masih ada satu dosa yang dia terus emban, yaitu berdusta. Dia berdusta seolah janin yang dia kandung itu adalah buah hatinya bersama Asmawi. Padahal ini adalah benih lelaki lain yang pernah merengkuh hangat jasmani Naira.”Ya Allah, ampuni hamba dan beri kekuatan,” batin Naira di tengah ejanannya.
“Laa illaha illallaah, Laa haulaa wa laa quwwata illa billahi!” seru Naira setengah terpekik sambil menghentakkan nafasnya. Suara tangis orok tampan memecah kehengingan malam. Semua bergegas masuk ruang bersalin. Naira berkaca-kaca menatap bayinya yang begitu tampan, mirip Firdaus, ayah bayi yang sesungguhnya. Semua berbahagia malam itu terutama kedua orang tua Naira dan Asmawi suami Naira. Hanya Naira yang terus terisak.
“Haruskah aku akan terus diam akan semua ini? Jika kusampaikan yang sesungguhnya, pastilah bencana akan dating dan dia pasti akan membuat seluruh keluarga terluka, malu dan entah apa lagi. Namun beban diusta yang dipikul Naira kian berat. Haruskah pula dia bungkam kepada sang penyumbang benih pada anak ini?
***
Ramadan, nama sang orok, begitu pulas tidur di pangkuan Bunda. Suara tadarrus meshias malam. Naira semakin tak sanggup menahan beban dusta, akhirnya kebenaran itu telah siap dia luncurkan. Di malam ke 20 menjelang Fitri ini, Naira akan membuat sebuah pengakuan. Pengakuan seorang yang telah melakukan perbuatan dosa, semoga ada ampunan. Malam itu dia telefon seluruh isi keluarga inti. Naira telah siap dengan segala kemungkinan.
“Bapak, Ibu, dan ayah..”hening sejenak. “Ijinkan mulut lancing Naira berucap. Pasti ini sangat menyakitkan..”lanjutnya kemudian hening lagi. Semua juga nampak tekun menyimak apa yang hendak diucapkan mulut mungil Naira. “Naira memang wanita tak baik, sudah tak suci. Naira telah melakukan dosa yang sangat besar. Naira telah berzina, Bapak, Ibu dan Ayah. INilah hasilnya. Bayi mungil ini, Ramadan.”
Laksana petir menyambar malam yang harusnya syahdu itu, ibu langsung terkulai lemas nyaris tak sadarkan diri. Ayah Naira, nyaris tak kuasa menahan amarah yang menggelora, namun reda oleh tepis lembut ibu Naira. Hanya Asmawi yang Nampak tenang.
“Bunda,” ucap Asmawi memecah sunyi. Sebenarnya, ayahlah yang paling bejat dari kalian semua. Tahukah Bunda, jika ayahlah yang mengirim Firdaus, kepada Bunda. Hanya demi memiliki momongan. Jangan diputus dulu ceritaku. Ayah telah tau dari beberapa sahabat muda Bunda begitu bunda memuja pria bernama Firdaus itu. Ayah hanya ingin keturunan, Bunda tahu, keluarga Ayah sangat membutuhkan itu. Oleh karena itu Ayah datangi Firdaus dan membujuknya untuk bisa meraih kembali cinta Bunda. Tentu saja dengan cara Ayah mencukupi keluarga Firdaus yang memang serba kekurangan,” cerita Asmawi seolah tak merasa bersalah. Kali ini Ibu dan Bapak Naira nyaris tak bias menahan kepala mereka, makin terkulai. Naira membelalakkan matanya yang memang bulat.
“Masya Allah, jadi…,” Naira tak sanggup berkata sepatah ucapan pun. Hanya tangis yang meledak-ledak seakan terus tertumpah dari dadanya yang sudah sesak oleh isak tertahan sejak awal. Entah petaka ini siapa yang harus menanggung dosa, namun harusnya di hari Fitri ini, semua berbahagia. Namun tidak bagi keluarga Naira. Semua serasa menuju penghujung jaman.
“Asmawi, tak kusangka betapa laknatnya engkau. Seorang suami seharusnya menjaga kehormatan istrinya, namun engkau justru membeli kehormatan dirimu dengan menjual kehormatan istrimu, bertobatlah engkau Asmawi, dan juga engkau Naira!” Ucap Ayah Naira sambil terbata.
Bulan Ramadan adalah bulan penuh pengampunan, di hari Fitri seharusnya semua dosa bias dimintakan ampun pada-Nya. Namun apakah kali ini dosa yang telah dilakukan oleh Asmawi, Naira dan Firdaus bisa terampuni? Masih adakah hukuman rajam itu dilaksanakan, di Negara ini? Wallahu ‘alam. Yang jelas Naira telah merundukkan kepala bersujud mohon pengampunan. Naira tak menghendaki lagi melanjutkan pernikahannya dengan Asmawi yang telah menjerumuskan dirinya meskipun kepad a pria yang dia cintai. Firdaus yang ternyata telah menduda hampir 5 tahun itu, benar-benar sungguh-sungguh telah mencintai Naira. Di hari ke 25 menjelang Fitri itu dua keputusan telah dilangsungkan, perceraian Naira dan Asmawi yang akan segera dilanjutkan dengan pernikahan Firdaus dan Naira. Asmawi mengaku salah dan dia merelakan istrinya menjadi istri dari ayah bayi telah dilahirkan oleh Naira itu.
Tadarrus malam kembali berkumandang, kali ini menemani telinga-telinga yang kehausan akan dengungan ayat suci di dalam sebuah taubat akbar yang tak henti henti disujudkan kepadaNya.


Ditulis oleh :
Lioni Ellis H
Yogyakarta